Merawat Wajah (1)

Fyuuuhh, lama banget yah, blog ini nggak diapdet. Bersih-bersih debu-debu duluuu…

Akhir-akhir ini sibuk sama makanannya Maxy. Jadi, saat bangun tidur, pertama kali yang terpikir adalah, “Hari ini apa ya menu makannya Maxy?”

Kabar? Alhamdulillah baik. Tapiiiiiii, jerawat banyak menyambangi wajah nih.

Mau ke spa, bingung di Jakarta ini dimana. Khawatir produknya nggak alami kayak spa langganan yang di Surabaya. Selain itu kalau nyepa kan berarti ninggalin Maxy agak lama. Males banget. Mau ke dokter spesialis kulit juga malas (biayanya :P ). Akhirnya, aku membeli produk kecantikan saja untuk merawat wajah. Kebetulan teman sendiri yang jual. Produknya insyaAllah aman, sudah diperiksa di BPOM. Suami juga langsung merestui, begitu tahu aku mau membeli produk tersebut. Kata suami, “Kalau kamu cantik, aku juga yang menikmati.” :P

Mudah-mudahan cocok ya… :D

Foto wajah yang lagi jerawatan dulu, supaya ntar bisa dibandingkan hehe…

Oke, ntar tulisannya diapdet lagi kalau wajah udah agak mendingan hehe :D .

 

Bekal Ketika Ditinggal Suami

“Ditinggal suami kemana, Bu?”

“Hyaaaaahh, biasa, dinas luar kota.”

Nah, siapa hayooo yang suaminya sering dinas luar?

Well, sebenarnya sih biasa aja sih ya bagi sebagian orang ditinggal dinas keluar sama suami. Tapiiiiiiii, bagaimana dengan mereka yang masih punya bayi, nggak ada ART, dan tinggal jauh dari keluarga?

Saya salah satunya.

Awalnya saat suami pindah divisi yang mengharuskan beliaunya mendadak dinas luar saya manyun (sekarang juga sih, tapi dikiiit :P ), tapi, ya mau gimana lagi? Namanya juga kerja. Ujung-ujungnya juga buat keluarga kan? :)

Kalau saya, hal paling sulit adalah masalah makan. Sebagai ibu yang masih menyusui babynya, makannya kudu yang bergizi donk…

Kalau beli juga susah, sebab warung-warung makanan agak jauh dari rumah. Mau menitipkan bayi ke tetangga, kok sungkan ya? Nitip kok terus… Lagian sayanya juga kurang sreg, sebab rata-rata tetangga juga punya baby or anak kecil gitu. Khawatirnya nanti anaknya rewel atau gimana gitu, lalu anak saya nggak terawasi dengan baik. Saya juga yang kepikiran.

Nah, biasanya nih, kalau suami besoknya mau keluar kota, pagi sebelumnya saya sudah belanja. Biasanya belanja sayur yang nggak ribet untuk ditumis misal: sawi, kacang panjang, bayam, dll. Pokoknya sayur-sayur yang nggak ribet metikin sama ngupasinnya. Saya memilih menumis supaya vitaminnya nggak banyak kebuang (eh bener nggak sih?)

Yah, kalau lagi malas menumis, sayur-sayur itu  saya bikin sayur bening atau juga cuma saya rebus. Rebusan sayur saya makan dengan sambel pecel yang biasa saya stock sebelumnya. Tak lupa, cabe bawang juga udah distock di kulkas, sehingga tinggal diolah  jika diperlukan.

Kalau mau masakan agak enakan sih, biasanya saya belanja hari itu lalu saya masaknya pas malam sebelum suami berangkat. Misal, saya beli ikan tuna atau patin, lalu saya balado. Atau saya bikin sayur lodeh. Itu biasanya lumayan untuk makan dua hari berturut-turut hehehe :D .

Lalu, untuk lauk, biasanya saya sedia telur ayam negeri, telur asin, telur puyuh, dan sosis. Nggak pakai ribet pokoknya. Soalnya, baby saya “bau tangan”, jadi kalaupun ada waktu memasak itu adalah hal istimewa buat saya.

Suami sih biasanya nggak lama keluar kota, paling lama empat hari kayaknya. Namun, bekal-bekal itu lumayan membantu bagi saya.

Oh iya, saya juga selalu sedia buah, susu UHT, selai, dan roti tawar di rumah. Sesekali juga es krim. Lumayan buat ngemil. Karena kadang waktu serasa membosankan kalau di rumah saja. Jadi, makanan-makanan itu sangat membantu sekali.

Nah, bagaimana dengan anda wahai ibu dari bayi-bayi, yang juga sering ditinggal suami dinas luar kota? Ditunggu sharingnya ya? :)

Ibu yang Senasib…

Ternyata memang ada ibu-ibu lain yang bernasib sama sepertiku, ingin memberi ASIX kepada anaknya namun kondisi tidak memungkinkan. Kondisi tersebut adalah kondisi dimana seorang ibu ngotot memberi ASIX di awal-awal bulan kelahiran anaknya tapi ternyata ASI-nya tak bisa terserap masuk dengan baik. Akibatnya, si anak mengalami apa yang disebut dengan Failure to Thrive (FTT) atau yang lebih dikenal dengan gagal tumbuh.

Aku, adalah salah satu dari sekian banyak ibu-ibu itu :( .

Ada seorang ibu yang cukup sering muncul di milis per-ASI-ASI-an yang ternyata anaknya mengalami FTT karena alasan tersebut di atas. Setelah kutelusuri beberapa emailnya, aku beranikan diri mengiriminya email perkenalan. Gayung bersambut, Si Ibu  ini dan aku mulai terlibat beberapa perbincangan. Terutama mengenai keikhlasan menambah asupan sufor untuk anak kami.

“Sufor bukan racun, sufor itu obat,” Katanya. Sebab dokter sekelas salah satu dokter ahli laktasi di Indonesia lah yang juga memberikan nasehat itu kepadanya.

Tapi, di atas semua itu, berbincang dengan ibu-ibu yang senasib sangat melegakan. Aku nggak sendiri…

She said, “Btw mom, janƍan terlalu worry/stress ya.. Αϑα koq mommies lain yg pny cerita mirip. Itu uϑa lewat.. Skr gmn caranya menjadi lebih baik, memperbaiki yg sudah terlanjur salah. Kalo dimilis pd kenal aku sbg yg wanti2 soal sufor lah, “asi is the best” lah, anak sapi, berat baϑan kurang n skr tumbang telat .. Semua itu aku belajar karena pny anak. Jg byk belajar lain spt pengobatan RUM, home treatment dll.. Pny anak sungguh berkah, aku jadi makin pintar, menemukan potensi keibuan, belajar menghadapi masalahku sendiri, ƍä mentingin diri sendiri dll deh.. So semua berkah (baca: ujian) aku anggap Tuhan masi sayang sama aku. Θia mau aku maju dgn memberikan hadiah yg priceless dan aku tp hari berdoaaaa mom.. Smg suatu saat semua ini indah pada waktu-Nya .. Amin! Semoga sama buat mom Sari :) )” (langsung aku kopas dari emailnya :) )

Yup, perjalanan menjadi ibu yang baik masih sangat panjang…

Hari Sabtu…

Hari Sabtu yang cerah, kami mengantar Maxy imunisasi, lalu lanjut ke pergi ke mall :D .

Pumping… Pumping…

Alhamdulillah, sudah bisa pumping ASI minimal 3x sehari. Mengumpulkan setetes demi setetes demi Maxy yang masih kesusahan menyusu langsung.

Meski di luar sana, mungkin banyak yang mencibir, “Kenapa mixed sufor?”

Meski yang terdekat bertanya, “Kenapa masih pumping, kan sudah ada sufor?”

Ah, biarlah. Tutup mata, tutup telinga, buka hati.

Ibu ingin tetap mengASImu, Nak…

Meski setiap hari harus mencari akal supaya ASIP-mu terminum habis.

Ibu tak peduli dengan kata “Eksklusif” ataupun gelar-gelar SI, S2, dan S3, asal kau bertumbuh kembang dengan baik, itu cukup.

 

Dengan penuh kASIh,

Bundamu

Nasi Uduk

Dulu, saat masih tinggal di Surabaya, aku paling nggak suka makan dengan nasi uduk (nasduk :P ). Bagiku rasanya aneh. Pas, di Jakarta sekarang ini ternyata setelah icip-icip dari beberapa warung nasduk, ealah kok ya ketagihan. Utamanya buat sarapan hehe :D .

Sebenarnya hal ini terjadi karena diracuni sama suami sih. Jadi, pas awal-awal pindah ke Jakarta, aku dikenalin suami sama warung nasduk dekat rumah yang nasinya lumayan cocok di lidah. Enak. Agak mahal sih, karena dibungkus dengan daun pisang. Biasanya, aku dan suami memesan dengan lauk telur balado dan sambal yang banyak.

Kemudian kami nemu satu warung lagi yang lebih murah tapi porsinya lebih banyak (gak mau rugi haha :D :P ). Nah, di warung yang satu ini lauknya lebih komplit. Aku biasa memesan ati ayam, makanan favoritku (tapi yang paling dibenci suamiku :P ).

Yah, lama-kelamaan lidahku makin menyesuaikan dengan makanan-makanan di Jakarta ini lha. Tapi, tetep aja sih, tiap pagi kangen banget sama yang namanya sarapan nasi pecel. Abisnya di sini pagi-pagi yang buka kebanyakan warung nasduk, susah nemu pecel hehe :D .

Tentang Menjadi Ibu yang Baik

Kapan hari, di salah satu milis yang aku ikuti lagi ramai soal masalah “menjadi ibu yang baik”. Lagi-lagi, sumbernya adalah masalah metode melahirkan, masalah ibu yang bekerja atau nggak, serta masalah bisa ASIX atau nggak. Hadeuh, dunia motherhood memang sedikit kejam rasanya. Padahal, aku menyambut motherhood dengan suka cita lho. Tapi urusan judge-menjudge ini masih saja ada. Tidak bisakah kita, para ibu-ibu berdamai? Lalu saling support dalam mengasihi anak-anak kita?

Menurutku ya, menjadi ibu itu bukan tentang:

  1. Bisa melahirkan secara alami atau SC;
  2. Menjadi Stay at Home Mom (SAHM) or Working Mom (WM);
  3. Bisa memberi ASIX atau sufor;

Okeh, untuk poin nomor satu. Maxy dulu sempat akan dijadwalkan dilahirkan secara SC karena kondisinya yang imut alias BBLR. Dokter khawatir dia nggak kuat menahan kontraksi. Namun, Alhamdulillah, ternyata Maxy pinter, dia mau keluar sendiri. Tanpa induksi dll, dia keluar lewat persalinan spontan. Kalau dengan cara ini aku sudah bisa disebut sebagai ibu yang baik, ya Alhamdulillah, makasih lho… Tapiiii… kalau aku jadi SC gimana donk? Jadi, aku bukan ibu yang baik gitu?

Lalu, untuk poin kedua. Aku memutuskan untuk menjadi SAHM (setidaknya mungkin untuk sementara ini) karena mau konsen ke Maxy. Lalu, apakah aku sudah bisa disebut sebagai ibu yang baik? Kalau iya, (lagi-lagi) makasih lho yaaaa… Tapiiii… jika aku memutuskan untuk kerja kantoran setelah Maxy agak gedhe, apa aku berubah jadi ibu buruk?

Poin terakhir, Maxy sejak usia tiga bulan minumnya campur sufor karena kenaikan BB-nya nggak bagus, bahkan divonis gagal tumbuh. Jika, Maxy nggak minum sufor maka dia akan kelaparan. Jangan ditanya soal donor ASI, karena ternyata Maxy menolak ASIP pendonornya. Lalu, jika aku memberi sufor ke Maxy apakah aku bukan ibu yang baik? Padahal untuk poin satu dan dua aku lulus, namun karena poin ketiga aku kesandung :( .

Aneh, aneh, aneh. Aneh jika tiga poin di atas lah yang menjadi patokan menilai seorang ibu sudah menjadi ibu yang baik atau belum. Menurutku (lagi) hal terpenting adalah bagaimana seorang ibu bisa dikatakan baik adalah jika dia mampu mendidik dan membesarkan anaknya. Aku sendiri kalau Maxy jerit-jerit rewel suka bertanya-tanya pada diriku, mampu nggak ya aku mendidik anak ini? Kalau sekecil sekarang ini sih, dia masih kumanja-manja. Nangis dikit, langsung kutanya, “Apa, Sayang?” Lha, kalau sudah besar bagaimana? Tentang parenting style nilah yang saat ini sering kudiskusikan bersama suami.

Jadi, aku nggak akan lagi mau terlibat diskusi (yang ujung-ujungnya jadi perdebatan) tentang lahiran spontan atau SC, SAHM atau WM, terlebih lagi ASIX atau sufor atau campur. Bagiku, parenting style adalah hal yang lebih patut diperbincangkan dan dipelajari, untuk kemudian diambil mana yang lebih baik. Tentu saja, seperti tagline The Urban Mama, aku juga nggak akan kaku, because there is always different story in every parenting style :) .

Mengajak Maxy ke Carrefour

Mengajak Maxy ke Carrefour bisa dibaca di sini :D .

Patin Bumbu Sembarang

Mau cerita nih soal ikan patin.

Jadi ya, sebenarnya aku tuh paling malas mengolah ikan. Kenapa? Karena bisanya cuma dibumbuin untuk digoreng. Sedangkan, aku paling malas yang namanya goreng-menggoreng. Karena dulu, kayaknya saat kecil, pernah menggoreng sesuatu dan kecipratan minyak. So, aku paling benci menggoreng karena takut banget kena percikan minyaknya. Trauma gitu, ceritanya :P .

Nah, soal menggoreng, yang paling suka aku goreng tuh tempe aja. Karena minyaknya nggak meletup-letup :D . Nah, kalau ikan, aku memilih ikan tuna. Biasanya di tukang sayur langganan sudah dipotongin. Tinggal aku bumbuin lalu cemplung ke wajan berisi minyak panas.

Pas kemarin, ternyata tunanya habis, yang tersisa patin. Karena aku juga suka patin makanya aku beli. Ternyata, sepanjang pagi hingga siang susah banget mengolahnya jadi masakan karena Maxy merengek minta ditemani terus. Yawda, sebagai mommy yang cantik dan baik hati ya nggak tega donk ninggalin dia. Benar-benar anakku ini nggak mau lepas dari perhatian ibunya.

Nah, pas suami pulang malamnya, kalimat pertamaku, “Horeee, Ayah pulang. Maxy sama Ayah yah?”

Suami sewot, “Belum apa-apa, sudah disuruh megang Maxy?”

Wedew, suami makin ganteng deh kalau sewot :D :P .

Tapi, alhamdulillah suami mengerti juga. Lagian kan hari ini sampai lusa dia mau dinas keluar kota jadi ceritanya dia (mungkin) mau muas-muasin gitu maenan sama baby-nya.

Yes, Maxy sudah terpegang oleh empunya. Akhirnya mulailah aku ambil blender untuk nge-blend bumbu-bumbu yang sudah kusiapkan. Bumbunya sih ngawur aja ya, asal cemplung gitu. Mirip-mirip balado sama bali lha (kalau di Surabaya we called it “bali” kalau di Jakarta embuh yo… :P ).

Ada tujuh siung bawang merah, ada empat siung bawang putih, garam sesuka hati, kemiri sebungkus isi enam aku masukin semua, ada cabe merah sesuka hati berapa aja nemunya aku masukkan, tomat satu buah, cabe rawit kayaknya sih delapan. Udah, itu semua aku blender jadi satu. Oh iya, sama dikasih sedikit air supaya mudah halusnya.

Abis itu tinggal goreng patinnya. Lalu aku nemu sisa tempe, aku goreng saja sekalian. Untuk masalah menggoreng patin ini, mungkin caraku menggoreng bakal diprotes chef-chef :P . Seperti kuceritakan sebelumnya, aku benci banget menggoreng, maka cara goreng patin adalah masukkan patin ke wajan lalu ditutup sama tutup panci yang dari kaca. Sekiranya matang ya diangkat. Hihihi, whatever, who cares, yang penting mateng :P . Oh iya, sebelumnya patin sama tempenya dibumbuin garam, bawang putih, dan ketumbar. Takarannya suka-suka.

Setelah patin dan tempe sukses digoreng, maka selanjutnya adalah menumis bumbu. Kira-kira sampai keluar asap (karena kalau aku bilang “sampai keluar aroma” percuma, toh penciumanku jelek, nggak bisa mencium aroma bumbu – ini serius :P ), masukkan gorengan patin dan tempe ke bumbu. Aduk-aduk, tambahkan garam, gula, dan kecap sesuka hati. Masak sampai kira-kira layak untuk dimakan. Jadi deh, Patin Bumbu Sembarang.

Kata suami sih enak (tumben dia memuji, secara selama ini dia kayaknya mengelus dada kalau istrinya memasak hahaha :P ). Alhamdulillah bisa dimakan sampai siang ini, bekal saat suami sedang keluar kota. Kan aku agak susah belanja kalau suami tidak di rumah, sebab digandoli sama Maxy terus (ah, alasan, preeet :P ).

Ya sudah, pokoknya begitu masakannya. Bisa dicoba jika berkenan :) .

Jalan Pagi di Hari Libur

Jalan Pagi di Hari Libur bisa dibaca di sini :) .