Mau cerita nih soal ikan patin.
Jadi ya, sebenarnya aku tuh paling malas mengolah ikan. Kenapa? Karena bisanya cuma dibumbuin untuk digoreng. Sedangkan, aku paling malas yang namanya goreng-menggoreng. Karena dulu, kayaknya saat kecil, pernah menggoreng sesuatu dan kecipratan minyak. So, aku paling benci menggoreng karena takut banget kena percikan minyaknya. Trauma gitu, ceritanya
.
Nah, soal menggoreng, yang paling suka aku goreng tuh tempe aja. Karena minyaknya nggak meletup-letup
. Nah, kalau ikan, aku memilih ikan tuna. Biasanya di tukang sayur langganan sudah dipotongin. Tinggal aku bumbuin lalu cemplung ke wajan berisi minyak panas.
Pas kemarin, ternyata tunanya habis, yang tersisa patin. Karena aku juga suka patin makanya aku beli. Ternyata, sepanjang pagi hingga siang susah banget mengolahnya jadi masakan karena Maxy merengek minta ditemani terus. Yawda, sebagai mommy yang cantik dan baik hati ya nggak tega donk ninggalin dia. Benar-benar anakku ini nggak mau lepas dari perhatian ibunya.
Nah, pas suami pulang malamnya, kalimat pertamaku, “Horeee, Ayah pulang. Maxy sama Ayah yah?”
Suami sewot, “Belum apa-apa, sudah disuruh megang Maxy?”
Wedew, suami makin ganteng deh kalau sewot
.
Tapi, alhamdulillah suami mengerti juga. Lagian kan hari ini sampai lusa dia mau dinas keluar kota jadi ceritanya dia (mungkin) mau muas-muasin gitu maenan sama baby-nya.
Yes, Maxy sudah terpegang oleh empunya. Akhirnya mulailah aku ambil blender untuk nge-blend bumbu-bumbu yang sudah kusiapkan. Bumbunya sih ngawur aja ya, asal cemplung gitu. Mirip-mirip balado sama bali lha (kalau di Surabaya we called it “bali” kalau di Jakarta embuh yo…
).
Ada tujuh siung bawang merah, ada empat siung bawang putih, garam sesuka hati, kemiri sebungkus isi enam aku masukin semua, ada cabe merah sesuka hati berapa aja nemunya aku masukkan, tomat satu buah, cabe rawit kayaknya sih delapan. Udah, itu semua aku blender jadi satu. Oh iya, sama dikasih sedikit air supaya mudah halusnya.
Abis itu tinggal goreng patinnya. Lalu aku nemu sisa tempe, aku goreng saja sekalian. Untuk masalah menggoreng patin ini, mungkin caraku menggoreng bakal diprotes chef-chef
. Seperti kuceritakan sebelumnya, aku benci banget menggoreng, maka cara goreng patin adalah masukkan patin ke wajan lalu ditutup sama tutup panci yang dari kaca. Sekiranya matang ya diangkat. Hihihi, whatever, who cares, yang penting mateng
. Oh iya, sebelumnya patin sama tempenya dibumbuin garam, bawang putih, dan ketumbar. Takarannya suka-suka.
Setelah patin dan tempe sukses digoreng, maka selanjutnya adalah menumis bumbu. Kira-kira sampai keluar asap (karena kalau aku bilang “sampai keluar aroma” percuma, toh penciumanku jelek, nggak bisa mencium aroma bumbu – ini serius
), masukkan gorengan patin dan tempe ke bumbu. Aduk-aduk, tambahkan garam, gula, dan kecap sesuka hati. Masak sampai kira-kira layak untuk dimakan. Jadi deh, Patin Bumbu Sembarang.
Kata suami sih enak (tumben dia memuji, secara selama ini dia kayaknya mengelus dada kalau istrinya memasak hahaha
). Alhamdulillah bisa dimakan sampai siang ini, bekal saat suami sedang keluar kota. Kan aku agak susah belanja kalau suami tidak di rumah, sebab digandoli sama Maxy terus (ah, alasan, preeet
).
Ya sudah, pokoknya begitu masakannya. Bisa dicoba jika berkenan
.
Recent Comments